Ada kesalahan di dalam gadget ini

Sabtu, 03 Agustus 2013

Plakat KKN

#CeritaDariKamar hari ke-3

Sawah. Sapi. Air. WB.



19 Januari 2009

Pagi itu diadakan acara pelepasan mahasiswa KKN se-Universitas di auditorium. Hujan pun turun, untungnya itu nggak berlangsung lama. Saat itu gara-gara urusan logistik di tempat kelompok besar kami menimbun yaitu kos salah satu anggota ada sedikit masalah, akhirnya sebagian besar kami termasuk saya, ikut-ikutan meninggalkan auditorium dan membereskan masalah yang saya lupa apa itu. Masalah selesai, kami kembali ke auditorium dan ternyata acara pelepasan telah selesai, huh.

Rombongan besar bergerak dari universitas menuju desa-desa yang telah ditentukan di seluruh pelosok pulau kecil nan indah ini, Lombok sedikit promosi. Konsep KKN saat itu adalah KKN KF(Kuliah Kerja Nyata Keaksaraan Fungsional). Jadi mbuh ya si mahasiswa ngambilnya jurusan apa gitu...saat pelaksanaan KKN program kerjanya (proker), ya ngajar. Baca. Tulis. Rombongan saya kebagian di Lombok Tengah yang sebenarnya jalan sekitar 5 menit sudah masuk Lombok Timur, jauhnyaaaaaa. Sekitar satu setengah sampai dua jam baru sampai di lokasi.

20 Januari 2009

Satu posko yang isinya kelompok besar itu, 48 orang, panik dan pindah ke rumah Kepala Dusun (kadus) serta beberapa rumah warga. Alasannya karena posko yang merupakan rumah kosong yang besar itu, "horor".
Kami sudah terlanjur percaya sama cerita (yang katanya) warga pernah terjadi perampokan dan pembunuhan serta pemenggalan kepala si perampok dan darahnya yang berceceran terkadang masih terlihat. Serem nggak tuh. Ditambah lagi:
1. Ada tali yang kelihatan usang menggantung di tengah ruang tengah. Rumah tersebut nggak memiliki langit-langit, jadi terlihat gentengnya. Khas rumah di desa-lah pokoknya.
2. Beberapa orang dari sekian belas mahasiswi yang tidur di satu kamar berukuran sekitar 3x3 meter sempat mendengar malam itu seperti ada yang membuka tali(percayanya itu pocong yang membuka tali) dan bunyi-bunyi langkah(curiganya ada perampok yang mengintai). Mana hujan pula. Jujur saat tinggal di sana, saya sama sekali nggak takut sama yang (katanya) nggak kelihatan itu. Saya lebih takut sama orang-orang yang wujudnya jelas dan berniat jahat. Bahkan saya tidur nyenyak karena kelelahan.
3. Kami bersih-bersih rumah yang nggak terpakai itu sampai bersih, menimba air untuk mengisi bak mandi. Lalu paginya, air di sumur hilang. Lhah ada yang nggak beres. Bagaimana bisa air di sumur "hilang" dan hanya bersisa? Bahkan ada yang sambil bercanda, "Siapa yang semalem nimba? Pasti kamu ya?" lalu dijawab "Iya, hahahaha." mungkin maksudnya biar nggak parno berlebih. Tapi nggak mempan. Ternyata, kata salah seorang warga (salah satu warga kesayangan saya ^_^) sebut saja Bi A. Daerah itu adalah aiq atas (baca: air atas) jadi di daerah tinggi seperti tempat kami itu, mengandalkan air hujan. Kalau nggak segera ditampung, ya air akan mengalir dan kabur lewat bawah tanah. Hahahaha
4. Di depan posko, tepat di depan sekitar 100 meter ada pemakaman. Yah, fix-lah sudah pada nggak mau tinggal di posko itu. Belum lagi sepanjang jalan dari posko yang kiri dan kanannya adalah sawah yang luaaaaas bener nggak ada penerangan sama sekali.

Betapa "polosnya" kami. Sorenya, langsung tanpa noleh lagi kami pun pindah posko.

21 Januari 2009

Tempat saya dan tiga teman mahasiswi "tinggal" adalah kamar di atas rumah kadus, sementara delapan mahasiswi lainnya di kamar bawah rumah di depan rumah kadus. Sementara 12 mahasiswa lainnya, berpencar di kamar sebelah kamar kami dan di ruangan-ruangan di depan rumah di depan rumah kadus. 24 mahasiswa serta mahasiswi lainnya berpencar lagi di dua posko yang berbeda yang letaknya dekat dengan masing-masing kelompok webe (WB=warga belajar) masing-masing.

Pagi itu yang terjadi adalah udara sangat dingin menusuk dan aroma terapi seluruh ruang kamar. HUK. Kotoran sapi, beuuuuh. Rupanya, saya baru memperhatikan. tetangga kami yang berjarak nggak lebih dari 10 meter adalah kandang sapi. Maknyos.

Kegiatan pagi itu dimulai dengan masak bersama, bergantian sarapan dan bergantian mandi. Pake antri.

2 Maret 2009

Nggak terasa bohong banget satu setengah bulan telah kami lalui bersama webe dan penarikan pun dilaksanakan. Hari terakhir itu adalah hari dimana kami (kelompok di rumah kadus) foto bersama untuk dijadikan plakat.





Banyak banget yang saya lewati. Saya harus mengendarai motor di pematang sawah yang mana kaki saya nggak pernah naik ke pijakan motor buat menyeimbangkan. Belum lagi sering hujan di saat-saat mengajar dan pulang dalam keadaan berlumpur. Untungnya seminggu terakhir jadwal ngajar dirubah yang tadinya setelah magrib menjadi pukul dua siang. Kami jarang makan malam di posko karena biasanya, webe dengan baik hati selesai kegiatan belajar mengajar menyuguhkan makan malam. Makan langsung menggunakan tangan dengan lauk pauk yang sederhana tapi mantap, bumbunya itu lho beda. Belum lagi selesai makan, pasti ngopi kedelai. Enyak. Ah kangen suasananya. Mereka ramah semua. Kami memanggil warga dengan *Inaq dan Amaq atau Papuq dan warga gantian memanggil kami dengan Bu dan Pak.

Mengajari webe untuk baca tulis awalnya mengajari dulu bagaimana caranya memegang alat tulis. Satu hari satu konsonan dan huruf-huruf vokal. Lalu mengajari membuat tanda tangan. Sebenarnya dari tanda tangan bisa ketahuan mana yang webe sungguhan dan mana yang bukan. Ini menurut saya lho, karena webe sungguhan akan susah mengingat tanda tangannya sendiri walau tanda tangannya bentuknya sederhana dalam beberapa hari karena faktor "belum familiar" dengan huruf-huruf. Sementara yang "seharusnya" bukan webe, akan dengan mudah melakukannya di kali kedua apalagi seterusnya. Tapi nggak masalah, konsekuensinya mereka jadi berakrab dengan kami. Mereka adalah orangtua kami di sana karena kami nggak bisa seenakknya pulang ke rumah jika nggak urgen atau weekend itupun giliran biar posko nggak kosong.

Selain itu saya jadi tahu walau nggak mengerti sepenuhnya sifat masing-masing anggota kelompok. Manusia. Ada marah, bahagia, rahasia, banyak kesan lah yang bercampur. Tapi yang penting, webe banyak yang kemudian bisa baca tulis. Ah lucunya, walau mereka nggak bisa baca tulis tapi mengerti uang. Tahu nilai uang. Lalu proker berjalan baik dan kami yang istiqomah ya masih tetap berinteraksi sampai sekarang.



*Inaq, Amaq, Papuq = Ibu, Bapak, Kakek/Nenek




2 komentar:

  1. wow pengunjung 6666!!! daebak!! angka setan!! hahaha...btw Ranchin dah naruh postingan terpopuler, hehe..nggak nyangka pemenangnya bayu skak!! kkkk berapa yang udah liat tuh ran??

    BalasHapus
    Balasan
    1. biasanya suka tak capture angka2 unik jumlah pengunjung...yo weslah....

      setelah tak liat lagi, bayu skak itu yg diliat bener2 nggak nyangka, buanyak yg liat ckckckck. buanyak

      Hapus

Welcome blogger.... ^_^
Ber-komen-lah dengan bahasa yang baik & no SARA.