Ada kesalahan di dalam gadget ini

Senin, 31 Oktober 2016

Bisa Jelaskan Apa Beda Bertahan dengan Bersabar? Karena Saya nggak bisa.

Bagaimana rasanya, seolah hari ini situasi dan semua orang mencoba menentang dan menantangmu dan...mereka berhasil.

T*i banget tau nggak sih. Nyebelin banget tau nggak sih.

Ya, itu yang sungguh-sungguh saya rasakan. What was so wrong with me 'til all of this, likes, hate me so much.

Walau nyatanya saya cuma bisa bertahan, belum bersabar, runtuh dan mulai menyalahkan semua tapi akhirnya saya tau saya sepertinya memang harus kalah harus mengalah dengan keadaan... saya nggak bisa ngelawan.

Akhirnya saya merasa, saya kesal. Saya marah. Saya tersakiti. Sakit. Ini nggak adil.

Ada respon karena ada pemicu.

Mereka, orang-orang dan situasi, mengganggu dan mengancam saya, saya bertahan berusaha bertahan dan nggak nyerang balik. Tapi kenapa, sepertinya saya harus salah, harus kalah. Apa yang saya lakukan pada mereka sampai mereka menyerang seperti itu.

Mungkin....secara nggak sadar saya "mengancam" mereka, hingga mereka menyerang saya.

Anehnya, saya rela mengalah, salah  dan sakit sendiri, saya nggak tau...mungkin karena saya hmm bertahan. Jujur, saya nggak pernah merasa bersabar. Ya, saya hanya bertahan.

Ya.

Mungkin....secara nggak sadar saya "mengancam" mereka, hingga mereka menyerang saya.

Mereka menyerang saya karena sesuatu yang (telah) saya lakukan  dan saya pasti salah karena nggak sadar salah saya. Bukannya saya ingin bermain pelaku dan korban, tapi kalau begini, ini jelas saya benar-benar nggak sadar salah saya dimana.

Saya percaya, cepat atau lambat semua hal, baik atau buruk, pasti dibalas. Bisa saja, salah saya di masa lalu yg sedikit demi sedikit itu dibalas sekaligus di satu hari ini.

Dan itu benar-benar nyebelin banget, tau nggak sih.

Mungkin bertahan secara perasaan nggak bisa disatukan tapi bertahan dan bersabar bisa disatukan dalam suatu perbuatan, karena perasaan saya bilang, selama saya bertahan saya nggak merasa sedang bersabar padahal secara perbuatan saya sedang mempraktikkan bagaimana bersabar itu. Ah, mbuhlah.

*janganlah berkata sesuatu kecuali itu sesuatu yang baik, dengan kata lain....berkatalah yang baik atau diam*

ASTAGHFIRULLAH! Jangan tiru yang jelek, terima saja yang baik. Bagaimanapun saya bukan orang yang sempurna, bukan orang yang paling benar semua, tapi saya jelas nggak mau kalau ada rasa hina karena salah atau melakukan hal-hal yang memalukan.

Bagaimanapun saya tetap ingin berbuat yang baik-baik saja, berbuat yang minimal nggak menyusahkan diri atau orang lain. Walau selalu saja orang membuat pertahanan diri mereka dengan menolak terlebih dahulu pemberian saya yang menurut saya, baik. Saya paham itu spontanitas, saya kadang seperti itu..menolak dulu sebelum berpikir untuk menerimanya jika itu hal yang baik namum cukup menyusahkan.


Lihat, betapa saya ingin teriak menceritakan semua tapi saya nggak ingin bilang. Saya ingin semua tau tapi saya nggak ingin bilang. You should know, but i won't tell.

aaagh!

Saya sungguh kontradiktif. Mungkin labil. Saya benci tapi saya suka, suka tapi benci. Marah tapi peduli, cuek tapi masih mau tau. Saya nggak percaya, orang se-tua atau se-dewasa apapun, pasti nggak akan selalu stabil. Selalu ada kelabilan dalam diri mereka. Haha.



Minggu, 17 Januari 2016

Cerita Komedi

*yak...saya jadi inget mau buat cerpen ber-genre komedi. tapi lupa, ini alurnya bagaimana, ceritanya tentang apa. akhirnya beneran jadi tulisan komedi kan.

sungguh komedi sungguh lucu. pembuat tulisan ini gagal membuat cerita komedi karena lupa.

itulah sebabnya, selesaikan satu urusan walau lama, tak apa, asal jangan ditinggalkan terlalu lama.

end.*

HA Ha ha

Apaan Ya..?

Waenyeol...apa-apaan ini!!

Tulisan apa ini~~

Siapa "dia"? Kenapa ada tulisan ini, kenapa tulisan ini di-draft-kan segala.

Saya benar-benar lupa.

Siapa ya?? Hahahahaha


I don't even care if somebody see this note and think that this is sooooo wierd..i don't care.
I just found this note.... hmm cute..

Cute? Which part..?


oh.. poor of me....ha

--------------------------------

Mikir..Mikir.....

Ternyata di suatu waktu, saya pernah membuat catatan seperti ini...

Tak kunjung di-post, mungkin malu, mungkin karena ndak jelas blas, mungkin karena terlalu nge-rap alias cepat susunan kata-katanya, mungkin karena catatan ini kesannya mentah banget dan apa-apa muntah begitu saja, mungkin karena..entahlah~

Mau nge-edit, apanya yang diedit.

Sekarang....setelah dibaca lagi, waw waktu itu perasaan atau pikiran ya yang sedang mendidih? Hmm

Kamis, 30 Juli 2015

"Eh..mbak ini kemarin tralalala.. iya, dia pernah lho begininini begitututu. Saya tau itu... beneran."

Atau

"Tau nggak, mas itu dulu lalala yeyeye. Yah, gitu sih katanya si anu. Mungkin ya, mungkin lho mas itu tak dung cess tak dung dung."

Pernah nggak ngerasa ada dalam percakapan atau malah berujung perdebatan nggak penting "hanya" karena berawal dari prolog seperti (di atas) itu? Pernah pasti. Seeeeeeealim-alimnya manusia, minimal pasti pernah terjebak dalam rumpian macam tu. Pasti.

Di sini saya nggak ngebahas tentang apa atau bagaimana hukumnya dalam aturan beragama atau bagaimana sikap atau solusi yang sebaiknya diambil jika berada dalam situasi seperti itu. No. Saya cuma ingin menuliskan apa-apa yang menurut saya mengganggu (saya) sangat jika situasinya begitu. Serius, ini tulisan uneg-uneg jujur saya yang kadang saya nggak tahan nyimaknya.

Ya, situasinya jelas: ngomongin orang.

Sabtu, 27 Juni 2015

Anak Tetaplah Anak

Sampai kapanpun, bagi orangtua, Ibu dan Bapak, anak-anak mereka tetaplah anak-anak... akan selalu ada keinginan, perasaan untuk selalu merawat dan melindungi anak-anaknya.

Sebagai anak, akankah nanti kita juga merawat dan melindungi Ibu dan Bapak?

Sebagai pengingat bersama...jangan pernah lupa selalu mendo'akan, mengharapkan dan berlaku serta bersikap yang terbaik, berusahalah untuk Ibu dan Bapak kita. Sayangilah Ibu dan Bapakmu sebagaimana Ibu dan Bapakmu menyayangimu diwaktu kau kecil.

Berbuatlah yang terbaik, ringankanlah langkahmu untuk kebaikan orangtuamu walau mungkin terasa berat dan mustahil karena sesungguhnya tak ada yang mustahil buat Allah SWT selama ada usaha dan do'a. Jangan tambah lagi beban bagi Ibu dan Bapakmu. Kesuksesanmu ada karena terkabulnya setiap do'a orangtua yang tak hentinya dipanjatkan. Restu Allah SWT ada pada restu orangtuamu. Ridho Allah SWT ada pada ridho orangtuamu.

:)


Sumber gambar

Jumat, 05 Juni 2015

Aku Sekarang (Sudah) Tahu

Kamu ga akan tau kapan, dimana, bagaimana dan seperti apa permintaanmu dikabulkan karena suatu saat jawabannya seketika itu juga diperlihatkan dengan sejelasnya.

Dan kamu akan tau, itulah jawaban yang kamu butuhkan.

Tunggulah dengan tulus berharap.