Ada kesalahan di dalam gadget ini

Selasa, 01 Mei 2012

[Really] Don't Judge a Book by the Cover

Waaaah, bener2 sebulan gak mem-posting apapun. Maaf..... maklum kesibukan :p

Sesuai judul, itu bukan u/kiasan tapi bener2 menjelaskan JANGAN MENILAI BUKU DARI SAMPULNYA. Walaupun kadang emang bener sih, dari mata turun ke hati...kalau ngeliat bukunya aja gak sreg di hati jadi males buat sekedar mencari tahu apa isi buku tersebut. Yah padahal buat cari tahu info isi buku itu, kan tinggal balik bukunya n baca deh di sampul belakang buku itu. Ya kaaaaan~ padahal sih, pernah juga sesekali.

Kalau gak salah inget waktu itu dua atau tiga tahun yg lalu di Arena Budaya UNRAM diadakan pameran buku yg entah saat itu diadakannya dalam rangka apa. Awalnya niat cari buku yg "berbau" Korea, tapi karena gak nemu akhirnya liat2 semua area yg kira2 ada bacaan menarik. Nah, lalu mampirlah di salah satu area buku2 "berbobot", yah pokoknya bukan buku cerita bergambar atau keterampilan memasak, menjahit n merangkai. Dalam hati,
ah masak pulang gak bawa buku...lha wong udah niat pengen nambah koleksi bacaan di rumah..liat2 di sini aja dulu siapa tau ada yg nyantol.

Setelah memperhatikan, pegang2 n baca2 sedikit penjelasan buku2 yg ada di bagian belakang buku2 itu yg tentunya masih berbungkus plastik ya iyalah,kan  masih baru, ada satu buku yg warnanya agak mencolok dg cover yg agak aneh walaupun warna buku itu bukan warna favorit tapi MENARIK...
Warnanya merah bubuk cabe, gambarnya orang yg sedang nunjuk ke depan pake jas n topi ala lelaki Eropa tapi wajahnya monyet, eh ribet sederhananya... itu gambar monyet nyengir yg pake jas n topi ala lelaki Eropa n nunjuk ke siapa saja yg liat buku itu. Judul bukunya juga aneh, REPUBLIK GENTHONESIA maju perut pantat mundur.

  
REPUBLIK GENTHONESIA

Setelah baca sampul depan n belakangnya, agak ragu mau beli karena pertama ada tulisannya penulis blog Mbah Dipo (kalo sekarang sih mungkin banyak yg udah tau ya tentang blogger ini) tapi best seller, kedua kata2nya kocak n gak mencerminkan keseriusan, lalu ketiga sepengetahuan saya penerbit buku itu yg ada ProU bukan ProYou...apa ini buku asal2an atau mau nyindir2 ProU, tapi kok ya bukunya lumayan berat n lumayan mahal juga harganya. Tapi karena bener2 penasaran, mungkin saja emang isi buku tersebut jenis buku yg open mind.

Di sampul depannya ada tulisan:
AWAS! tOBAT KERtAS
Bacalah aturan pakai, karena kumpulan kertas ini bisa menjadi inspirasi tobat dan keselamatan dunia-akhirat. Apabila ada efek berlanjut hubungi penulis atau penerbit.

Di sampul belakang, tulisannya :
KOCOK DAHULU SEBELUM DIBACA
(siapa tahu ada doorprize atau kecoaknya...)

Setelah sampai rumah n buka plastik pembungkus buku REPUBLIK GENTHONESIA itu, waaaahh terntaya bener tulisannya emang open mind n gak main2.....istilah di buku itu sih humor reliji. Buku karangan blogger Mbah Dipo dari Yogyakarta setebal 254 halaman ini, isinya penuh kisah, sindiran n realita yg terjadi di sekitar lingkungan kehidupan penulis n negeri ini. Kadang isi buku ini suka saya twit dg hastag (baca hestek) #RepublikGenthonesia....kalo mau, coba aja cari tapi kalo ketemu, hahahaha udah lama soalnya :p

Ada beberapa cuplikan tulisan yg menggelitik n mengena:

  • Dalam hal menyebutkan kandungan, jamu lebih dituntut jujur daripada obat. Beberapa produsen jamu bahkan menyebutkan label halal dalam hal cangkang kapsulnya. Sedangkan dunia obat farmasi terlalu sombong untuk disentuh perihal zat-zat tambahan yang dicampur aduk ke dalam obat bikinannya. Hal ini diperparah dengan fakta bahwa sebagian besar pasien berpaham "yang penting sembuh". Semua hal yang diawali dengan kata "yang penting..." menuntut tindakan menghalalkan segala cara. Padahal Allah tidak hanya memedulikan hasil. Keberhasilan yang dituntut Allah selalu berkaitan dengan kualitas cara. Keberhasilan adalah kualitas cara. Sejauh mana cara yang ditempuh berkualitas, maka itulah keberhasilan. Berkualitas maksudnya sesuai dengan syareat. Yang jelas, doanya orang yang ada barang haram di perutnya gak akan didengar. Simbah pernah ditanya, "Lha kalo kita gak tahu gimana Mbah?" Simbah jawab, "Kalau sampeyan minum cairan yang ternyata baygon cair, padahal sampeyan gak tahu kalo itu baygon cair, kira-kira sampeyan keracunan gak?"
  • Negeri ini telah membuat program "Wajib Belajar 9 tahun". Sayang "Wajib Belajar" itu banyak yang gak paham maknanya. Subyek dan obyeknya siapa, kabur. Wajib buat siapa, dan wajib yang bagaimana, sampai saat ini banyak yang gak mudeng. Bandingkan dengan program "Wajib Pakai Helm" atau "Wajib Sabuk Pengaman". Yang diwajibkan adalah pengemudi motor dan mobil. Jika gak pakai, maka dihukum, ada sanksinya. Dulu simbah semasa kecil memahami kata wajib belajar itu dengan gambaran bahwa kalo ada anak kecil gak sekolah maka akan dihukum. Karena sekolah itu diwajibkan. Kenyataannya tidak seperti itu. Maka simbah mangkin bertanya-tanya, apa makna wajib belajar yang sesungguhnya.
  • Tukang becak sudah lama tak kelihatan lagi di Jakarta. Propesi yang mengandalkan besarnya otot ini dianggap lebih banyak mendatangkan masalah daripada menyelesaikan masalah. Alasan yang paling banyak mendasari dilarangnya becak beroperasi adalah perihal kesemrawutan yang ditimbulkan oleh becak. Padahal juga tak bisa dipungkiri, kendaraan roda tiga itu merupakan kendaraan yang ramah lingkungan. Bahan bakarnya cuma Blue Energy alias air putih murni ditambah sego kucing limang pincuk (nasi kucing lima bungkus), yang cukup buat mancal mesin "3 tak" nya. Yakni "tak" injek, "tak" genjot dan "tak" gowes pedalnya. Tarif yang diberlakukan tukang becakpun sangat rasional. Mereka menetapkan tarif sesuai besaran energi yang dikeluarkan, yang tentu saja sesuai dengan hukum Newton yang melibatkan jarak (s) dan gaya (F). Jarak Pasar Pon ke Pasar Legi yang cuma sepeminum teh itu tentu saja beda taripnya dibanding dengan jarak Pasar Pon ke Palur, yang bisa dibilang sepeminum limang jimbeng teh (lima drum ukuran wadah minuman). Dan para abang ini tidak akan mengambil job yang melebihi batas kesanggupannya, walaupun dijanjikan bayaran sak hohah (kesan yang sangat banyak). Coba saja dia disuruh ngantar sampeyan dari Solo ke Semarang. Kalaupun dia mau, tentu saja itu disebabkan kekhawatiran bahwa sampeyan makin tambah kumat kenthirnya (kumat sintingnya) kalau keinginan itu gak dituruti. Jadi yang waras ngalah saja...

Mau lebih banyak baca serunya tulisan Mbah Dipo, beli aja bukunya atau kunjungi blog Pitutur Mbah Dipo 

Sekian n terima kasih buat yg udah mau mampir.... :)

2 komentar:

  1. ha ha pengen baca ne buku...
    hmmm kalo pinjem boleh???ha ha
    berkunjung ke blog saya ya, at ruangfana.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. ha ha terima kasih atas kunjungannya.boleh aja, asal...

      oke, udah tak kunjungi kok,,

      Hapus

Welcome blogger.... ^_^
Ber-komen-lah dengan bahasa yang baik & no SARA.