Ada kesalahan di dalam gadget ini

Minggu, 31 Mei 2015

Aku Tak Tahu Lainnya

Aku tak tahu rasa lainnya.
Aku hanya tahu satu rasa saat ini.
Hancur.
Aku tak peduli bagaimana orang menilai.
Tentang...
Aku yang dulu.
Aku yang menurut versi mereka, kau.
Aku hanya tahu satu rasa saat ini.
Kacau.

Barangkali mereka, kau, menganggap aku semestinya tetap aku.
Ya, aku semestinya tetap aku.
Barangkali.

Haaaah...
Bukan pembenaran, bukan pembelaan.
Tapi aku tak bisa selalu menjadi aku yang sama.

Aku mungkin masih bisa merasakan kebaikanku.
Aku percaya setiap orang, kau, diciptakan dengan adanya bagian kebaikan dalam diri.
Aku tak percaya jika orang, kau, sama sekali tak mempunyai hal baik.
Aku tak percaya.
Tapi aku meragukan jika kelembutanku, ketenanganku tak berubah.

Aku berubah.

Aku tak ingin mereka, kau, hanya menerima "kesempurnaanku".
Aku tak khawatir mereka, kau, mendapatiku kini "menampakkan" kekuranganku.
Aku tak peduli apa kata dan penilaian menurut mereka, kau.
Tapi terima saja.

Inilah aku yang sejujurnya.

Aku hanya manusia biasa.
Aku, mereka, kau, manusia biasa.

Tahukah kau... aku tak sepolos dulu, tak sebego dulu.
Aku mulai tahu banyak hal.
Aku tahu.
Aku tahu.
Aku tahu.
Aku merasakan.
Aku merasakan.
Aku juga merasakan banyak hal...
Hanya karena aku pernah merasa, bekasnya susah hilang.

Aku tak peduli omong kosong apa ini.

Tiba-tiba kamu datang.
Bukan.
Kamu bukan datang begitu saja, kamu memang ada.
Kamu ada dan membiarkanku menyerahkan sebagian kekuatanku tanpa kamu minta.
Tanpa tahu, tanpa peduli kamu ingin, akan, mau terima atau tidak.

Bodohnya.. aku memberikan apa yang tak kamu minta bahkan tak kamu butuhkan dariku.

Kenapa?
Kenapa rasanya jadi begini...
Kenapa rasanya sakit?!

Siapa kamu yang menyakitiku.
Apa alasannya kamu bisa menyakitiku.
Apa, ha!
Tanpa ijin dariku, kamu tak seharusnya menghancurkanku, mengacaukanku.
Tanpa ijin dariku, kamu tak seharusnya begitu.
Tanpa ijin dariku harusnya kamu bukan siapa-siapa.
Intimidasimu bukan apa-apa tanpa ijin dariku. Seharusnya.
Tapi.. tanpa ijin dariku... kamu sudah ada di sana.

Wae
Wae ireohkke neomu appa
Appa
Kenapa
Kenapa begini sakit
Sakit

Dalam perasaanku yang terdalam, aku tahu ini bukan salah kamu.
Ini sepenuhnya salahku.
Dan aku marah pada diriku.
Aku marah karena aku jadi lemah.
Aku marah karena aku tak menjadi diriku yang lebih baik di saat seperti ini.
Aku marah karena aku tak bisa menguasai diriku dengan baik.
Pertahananku tergerogoti.
Aku tak menyukai diriku yang begini.
Kali ini aku kalah. (Sial.)

Seperti anak kecil yang menangis karena tiba-tiba mainannya direbut dan mengadu pada orang yang dianggap lebih berkuasa, agar orang yang lebih berkuasa tersebut menghukum orang nakal yang merebut mainannya, begitulah aku.

Aku adukan kamu pada yang Paling Berkuasa.
Tapi bukan untuk menghukummu.
Untuk melindungiku dari sangkaanku tentangmu.
Karena saat ini aku tak tahu rasa lainnya selain hancur dan kacau.

Ah..

Sudah lama seingatku aku tak merasakan ini, tapi sepertinya memang begini rasanya.

Sepertinya memang begini rasanya.

Mungkinkah aku merasa hancur dan kacau karena itu?
Mungkinkah aku... sedang menanggung itu? rasa itu?
Atau patah hati sebelum yakin kalau memang benar itulah rasa itu?



Cinta?


Atau



Mungkin lainnya?


6 komentar:

  1. Balasan
    1. Satu kalimat....saya kenapa ya?

      haha

      Hapus
  2. cckck ketahuan :D
    cinta itu imbasnya ya gitu....seneng, sedih, kacau, sakit..and bla bla
    selamat menikmati.....itulah resiko para pelaku cinta,,,,makanya jangan jatuh cinta...#masihnyengirsampelimameitankedepan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Weeee manalah tau kalo "itu" mau dateng...hiks

      Ya...cakiiiit, broooo..
      jadi..tinggal usaha dan waktu buat saya untuk bereskan hati....tata ulang..

      Rasa itu sama seperti jalanan, ga mungkin lurus terus, pasti ada belokan, tanjakan, turunan, lubang, hambatan dan buntu..butuh latihan saya, kita... :D

      Hapus
  3. wuoow... lagi jatuh cinta?

    BalasHapus

Welcome blogger.... ^_^
Ber-komen-lah dengan bahasa yang baik & no SARA.