Ada kesalahan di dalam gadget ini

Jumat, 12 Oktober 2012

Pukul 6

Aku melompat turun dari ketinggian yang tak wajar ini, sesosok yang jelas bukan manusia walau berwujud manusia itu dengan kecepatan yang bahkan lebih cepat dari kedipan mata, berlari melewatiku begitu saja.

"Ahh...dia lagi!" Sosok itu lewat di depanku dan membuat kostumku berkibar. Aku segera berlari ke arah yang berlawanan darinya. Padahal pintu keluar terdekat ada di dekatku, kenapa dia harus repot berlari melewatiku dulu untuk keluar dari gedung ini menuju tanah lapang hijau itu.

"Kali ini aku nggak boleh kecolongan." Kecepatan berlariku pun tak mau kalah darinya.

"Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi, bahkan aku sudah memenangkan keseluruhan duel tadi. Jangan sampai kehadiran sosok tadi merubah keadaan dengan tiba-tiba lagi seperti sebelumnya." Sambil terus berlari sekuat tenaga dan tanpa rasa lelah sedikit pun, aku mulai memikirkannya.
Walaupun masih belum mengerti apa yang terjadi, ada sedikit rasa senang dan puas atas kemenanganku.

***

Blukk. Aku merebahkan diri di tempat tidur. Aah, nyamannya. Toktoktok. Kulihat Mam, Ibuku mengetuk pintu kamarku yang memang sengaja kubuka. Bersama Mam ada seorang anak perempuan bertubuh tambun dan bongsor tersenyum ke arahku dan mengenakan seragam yang sama dengan seragamku. Aku segera bangkit dan duduk bersila di tempat tidur.

"Ini Ratri, anaknya teman Mam. Baru hari ini Ratri pindah ke sekolahmu. Dia adik kelasmu." Kata Mam memperkenalkan.

"Ayo jangan malu Ratri, kalian ngobrol aja ya. Mam tinggal." Mam mempersilakan Ratri masuk ke kamarku dan meninggalkan kami.

"Ayo duduk di sini Ratri." Ajakku sambil mengayunkan tangan padanya agar Ratri tidak terus berdiri di dekat pintu kamarku. Ratri pun menurut dan kemudian duduk di pinggir tempat tidur.

"Panggil Mbul aja, Kak. Aku biasa dipanggil begitu, lagipula kalau Kakak panggil Mbul rasanya akan lebih nyaman buatku." Berusaha membuat nyaman dirinya.

"Oke, Mbul hihi lucu. Kamu kelas berapa dan kenapa pindah ke sini, kan udah masuk tengah semester untuk tahun ajaran ini?"

"Kelas sepuluh A, Kak. Iya, Ayah tiba-tiba dipindahtugaskan ke daerah sekitar sini, jadi kami sekeluarga juga ikut pindah karena tempat tinggal kami sebelumnya sangat jauh dari sini dan nggak memungkinkan untuk bolak-balik. Begitulah, Kak. Aku tahu Kakak kelas dua belas A, kelas unggulan." Mbul menjelaskan. Aku hanya menyimak sambil terpana karena pipinya yang tembem terlihat sangat lucu saat Mbul berbicara.

"Ooohh begitu..." Kataku sambil senyum-senyum kemudian melanjutkan, "Hehe...kok tahu, kamu juga tuh. Pasti di sekolah sebelumnya kamu pintar kan?"

"Yah...lumayan Kak, hehehe." Katanya tersipu.

Kami berbincang-bincang dan tanpa terasa waktu sudah berjalan hampir dua jam.

"Mbul, aku kebelet nih. Kamu ngapain kek, santai aja anggap rumah sendiri. Aku tinggal ya." Aku setengah berlari keluar kamar dan sengaja ke kamar kecil yang ada di belakang rumah yang letaknya terpisah dari bangunan utama tapi dekat dengan dapur. Sekalian melihat apa yang dikerjakan Mam. Ternyata Mam tidak terlalu sibuk dan hanya merapikan letak benda-benda di atas meja makan.

Aku menuju ke kamar kecil tapi kelihatannya sedang digunakan, mungkin pak Tono, tukang kebun kami. Aku menuju kamar kecil lainnya yang letaknya lebih jauh dan berlawanan arah. Ah dipakai juga, mungkin mbok Sum asisten rumah tangga kami. Mau tak mau aku kembali ke kamar kecil yang ada di dekat kamarku itu. Hmm, kok tiba-tiba udah nggak kebelet lagi. Akhirnya aku urungkan niat untuk ke kamar kecil dan kembali ke kamar.

Di kamarku ada dua anak kecil berambut lurus dan sama-sama  dikuncir dua di atas kepalanya yang sepertinya kakak beradik. Mereka terlihat seperti anak kelas 6 SD dan kelas 8 SMP. Kok bisa masuk, batinku.

"Kalian siapa? Kok bisa masuk ke rumahku, ke kamarku pula?" Tanyaku agak curiga dan berhati-hati karena takut mereka malah akan menangis. Diluar dugaan, sepertinya mereka nggak peduli dengan pertanyaanku yang sebenarnya terkesan memojokkan. Mereka hanya tersenyum dan memainkan rambut.

Mungkin aku aneh, tapi aku membiarkan mereka begitu saja untuk bergabung dengan kami. Kulihat jam di dinding menunjukkan pukul enam dan tak lama kemudian Mbul bepamitan untuk pulang untuk pergi les katanya. Aku mengantarnya sampai pintu depan dan anak-anak tadi mengikutiku di belakang. Harusnya anak-anak ini juga pulang, batinku karena masih bertanya-tanya siapa mereka.

Begitu aku menutup pintu dan berbalik, sang kakak mengarahkan padaku sebuah senjata berbentuk pedang tapi seperti trisula dengan panjang sekitar 60 cm sampai 70 cm tepat di antara kedua mataku.

"Apa itu?" Aku sangat terkejut dan mengambil langkah mundur.


"Senjata." Dengan santai sang adik menjawab sambil tersenyum.

"Terima, ini buat Kakak." Kata sang kakak sambil tersenyum.

"Buat apa? Di rumah nggak butuh benda seperti itu." Kataku berusaha menolak. Aku mulai celingukan. Jangan-jangan komplotan rampok. Lho tapi kok malah menawari senjata? Perasaanku sama sekali tidak takut kalau-kalau mereka akan melukaiku dengan senjata itu, entah keyakinan dari mana.

"Ambil saja, Kak." Kata sang kakak lagi dan masih tersenyum. Dengan setengah ragu aku mengambilnya. Agak berat.

"Oke, karena Kakak telah menerimanya berarti bisa kita mulai." Kedua kakak beradik bersamaan.

"Hah? Mulai apa?" Tanpa menunggu jawaban mereka aku mulai melangkah.

Aku berusaha melewati mereka dari sebelah kiri sambil berhati-hati dan tetap menatap mereka. Mereka memberi jalan sambil terus melihat dan masih tersenyum. Aneh, benar-benar aneh.

Aku bergegas menuju dapur untuk melihat Mam. Tidak ada. Mbok Sum dan pak Tono juga tidak ada. Kemana perginya mereka. Jangan-jangan benar mereka telah di sekap perampok. Kedua kakak beradik tadi pasti ada hubungannya, tidak salah lagi.

Begitu aku berbalik lagi ke arah rumah dan berniat menanyakannya pada kedua kakak beradik tadi, wush.....angin baru saja lewat di sekitarku. Karena kencang aku sampai terdorong ke depan dan menutup mata. Rambutku terasa berantakan. Begitu membuka mata tampak begitu banyak orang entah dari mana. Siapa orang-orang berpakaian aneh itu? Pakaian yang mereka kenakan lebih tepat disebut sebagai kostum. Di mana ini? Tampak rumahku telah berubah menjadi sebuah bangunan luas dan tinggi menyerupai gudang. Sangat membingungkan.

Kakak beradik itu jelas ada hubungannya.

"Ahkk!! Ternyata aku juga telah berpakaian aneh." Apa karena angin tadi? Suasananya kok jadi seperti sedang cosplay gini ya.

Kostumku ini berwarna putih dengan sentuhan berwarna emas di pinggir-pinggirnya, berbentuk mantel berkerah lebar dan tinggi, berlengan panjang dan bagian bawahnya sampai sepanjang di atas mata kaki. Aku mengenakan sarung tangan berwarna putih berbahan kulit yang terbuka di bagian ujung-ujung jarinya. Aku juga mengenakan sepatu boot setinggi betis. Masih memegang sebilah pedang tadi dan tentunya bengong tak percaya.

Kakak beradik tadi menghampiriku dan dengan santai menawarkan bermacam-macam senjata tajam lainnya sambil mengambil kembali pedang yang sedang kupegang. Ada pedang panjang, kalau di Jepang sih namanya katana. Ada yang berbentuk tongkat pemukul bola baseball dari besi dan ada ornamen runcing-runcing di seluruh bagian tongkat tersebut. Ada yang berbentuk godam bari besi. Ada yang berbentuk pecut kuda (?) dari rantai namun di ujungnya berbentuk bola dari besi dan ornamen runcing-runcing di seluruh permukaan bola. Ada juga senjata yang berbentuk seperti sabit, lagi-lagi kalau di Jepang disebut kama. Ada suriken. Payah, aku memang tidak begitu mengenal senjata-senjata ini.

Akhirnya aku memilih senjata yang mirip kama tadi. Wow, ternyata senjata yang kupilih ini lebih ringan daripada pedang berbentuk trisula tadi.

"Kalahkan mereka." Kata sang kakak.

"Kalahkan bagaimana? Apakah mereka akan menyerangku?"

"Nggak ada aturan yang jelas, boleh menggunakan cara apa pun dengan bebas." Tambah sang adik.

Setelah kakak beradik tadi pergi tiba-tiba orang-orang berkostum tadi perlahan mulai mendekat bersamaan. Bukannya menyerang untuk mengalahkan orang-orang ini seperti Aku berusaha mencari celah untuk menghindari orang-orang yang semakin lama bukan hanya mendekat tapi mulai berlari dan mengayunkan senjata.

Aku panik dan berteriak-teriak tapi itu sama sekali tak membantu. Dengan serampangan aku mengayun-ayunkan senjataku. Tanpa sengaja senjataku mengenai tangan salah satu dari orang-orang itu. Tiba-tiba saja orang itu menghilang.

Kemana orang tadi? Apa dia mati? Masih dengan serampangan aku mengayun-ayunkan senjataku, lalu orang kedua, ketiga dan keempat berikutnya juga tanpa sengaja terkena senjataku di salah satu bagian tubuh mereka. Ah bisa gawat kalau aku terkena senjata mereka, bisa-bisa aku juga ikut menghilang. Ada celah! Aku pun kembali berusaha menghindari mereka dengan terus berlari. Kali ini aku harus lebih waspada dan harus benar-benar menyerang atau aku yang akan menghilang. Benar saja, setiap orang yang kuserang dengan senjataku ini dan berhasil mengenainya orang itu akan menghilang, lenyap tanpa bekas. Setiap kali aku akan menyerang rasanya waktu seolah-olah berputar dengan lambat dan begitu senjataku akan berhasil mengenai orang-orang itu waktu tiba-tiba berjalan sangat cepat. Seperti di film Matrix, persis.

Lama kelamaan jumlah mereka semakin berkurang dan aku juga sudah mulai terpojok ke sudut bangunan yang tampak seperti gudang ini. Akhirnya, aku pun mulai memanjat sisi bangunan tersebut dengan menggunakan satu tangan sementara tangan lain tak henti-hentinya kuayunkan untuk menghalangi atau pun menyerang orang-orang itu. Aku menggapai dan memijakkan kaki pada apa saja yang ada di dinding tersebut agar bisa sampai menuju ke bagian atas dindingnya, dengan begitu aku bisa langsung dan dengan jelas menyerang mereka. Benar, rasanya jadi lebih mudah walaupun dengan posisi berpegangan pada sebuah besi yang tertancap dan memijakkan kaki pada besi lain yang ada di bawahnya.

Aku sudah terbiasa dengan pertarungan ini dan tidak sungkan lagi untuk menyerang sebelum diserang. Satu per satu orang-orang mulai menghilang. Tinggal dua orang lagi yang berusaha memanjat dan menyerangku, dengan kekuatan yang ada aku mengayunkan senjataku sekaligus ke arah dua orang tersebut. Mereka pun menghilang hampir bersamaan.

***

Semua lawan duel yang kukalahkan tadi ternyata telah berkumpul di tanah lapang itu dan tampak baik-baik saja, termasuk seseorang di antaranya yang sepertinya bertindak sebagai sang pemandu pertarungan duel tadi. Aku dan sosok itu berusaha menuju pada sang pemandu pertarungan. Aku harus mencegah sosok itu memberikan lembaran kertas yang dibawanya. Sepertinya sosok itu akan memberikan sebuah catatan pada sang pemandu dan sang pemandu akan mengumumkannya. Aku tak akan membiarkan sang pemandu membacakannya karena keadaan akan berubah lagi. Semua benar-benar masih tanda tanya dan samar bagiku.

"Oh tidak..." Sesalku. Sosok itu mendahului dan telah memberikan kertas itu pada sang pemandu. Saat aku melihat ke sisi kanan lapangan, tampak sebuah tulisan yang memenuhi hampir sebagian besar sisi lapangan tersebut bertuliskan # 1 ISURA. Aah, jadi di sini namaku Isura. Rada-rada Jepang gitu.

"Para petarung sekalian, hari ini Isura telah memenangkan pertarungan! Berikutnya adalah....oh sebentar." Sang pemandu menghentikan kalimatnya dan mengambil catatan yang diberikan sosok tadi, membacanya sebentar lalu melanjutkan kembali kalimatnya.

"Kita akan sama-sama mengetahui rahasia Isura!!" Seketika sorak sorai memenuhi lapangan ini.

"Rahasia apa? Kalian ini sedang melakukan apa sebenarnya?" Walau aku yakin tak ada yang mendengarkan, aku tetap bertanya.

Sosok itu kembali berlari dengan kecepatan seperti sebelumnya dan menuju ke arahku? Oh bukan, sosok itu kembali melewatiku.

"Apa lagi? Kemana lagi?" Mataku mengikuti ke arah larinya sosok itu. Sosok itu menuju ke arah sudut lapangan di bagian kananku, rupanya sosok lain yang berwujud manusia dengan mengenakan tuksedo hitam, berkacamata hitam dan bertopi tinggi seperti pesulap telah menunggu.

Refleks aku berlari mengikuti dan berusaha mendahului untuk menuju sosok lainnya tersebut. Sosok itu pasti tahu, feelingku berkata demikian. Tapi sekali lagi sungguh disayangkan, begitu sosok yang berlari itu sampai ke sosok lainnya tersebut, kedua sosok itu menghilang. Aku hanya melongo dan terus bertanya-tanya. Beberapa saat yang lalu, sebenarnya aku sedang apa?

Patt...mataku terbuka. Kamar? Sepertinya kamarku? Ya benar, batinku. Tanah lapangnya mana? Pakaian? Ya, pakaian. Aku mengangkat tangan kananku lalu menunduk dan melihat aku masih mengenakan seragamku bukan kostum duel itu. Rupanya aku bermimpi? Hahahaha, huh lega rasanya.... Benar-benar mimpi aneh di siang bolong yang sangat nyata dan meninggalkan tanda tanya. Kulihat jam di dinding.

Pukul enam? Kok suhunya masih sepanas ini? Kemudian kulihat arloji yang kukenakan di tangan kiri. Ah, masih jam tiga sore lebih sedikit. Serasa tidur panjang dan melelahkan. Setelah mataku benar-benar terbuka dan tenagaku mulai terkumpul sambil ngulet yaitu meregangkan seluruh badan, aku melepas arloji dan meletakkannya di meja kecil yang ada di sisi kiri tempat tidurku kemudian aku pun bangkit lalu berjalan dan menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri. Hah, rupanya si Mbul juga hanya mimpi.

Di sisi kanan tempat tidur ada beberapa buah tumpukan komik dengan bermacam tema dan sebuah komik laga di antaranya yang ditandai dengan pembatas buku karena belum selesai dibaca.

-end-











15 komentar:

  1. ha ha kirain cerita apaan...ternyata cumang ngimpiiii!!!
    beneran ke rani yang mpunya mimpi nech....kerren, kayaknya udah bisa nulis novel ne ba Ranran

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahahahaaaa bener....tapi karena mimpi ga punya jalan cerita, yah di lebay2kan dikit.. (/^_^)/

      Hapus
  2. udah dapat diduga itu hanya mimpi, hehe
    but Ran... ini ceritamu yang paling bagus...
    entah kenapa sempat keingat ama GANTZ waktu baca...
    pertahankan Ran!!
    Saya menantikan cerita seru lainnya!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. yahaay masak paling bagus? tapi rasanya tetep "belum mateng".oh tau sy gantz, smpt nntn sbntr versi manusia di channel celestial movie, sy ga suka ceritanya krn dy mati di awal....tp kl Kiki bilang gt, brrt mati di awal hanya mimpi.
      hmmm~ sy malah merasa tokohnya seperti sakura card captor~~~

      Hapus
    2. Sy nggak tahu bagian mana yang mirip card captor sakura, tapi yg pasti untuk GANTZ, itu ada lanjutannya Ran.. :)

      Hapus
    3. setelah lihat lagi gambar2nya sakura, iya jauuuuuuuh...kostumnya imut sedangkan kostum karakter di sini kesannya keren,,kok bisa ya tak mirip2in :D


      hmmm, jd penasaran sama ceritanya GANTZ (kenapa sy jd ikut2an nulis pake huruf besar) walaupun belum pengen skrg, insyaAllah kapan2...

      Hapus
  3. Jadi sebenernya ini udah jam 6 ato masi jam 3 ?? Itu judulnya juga pukul 6... tapi masi panas...??
    Aduh... maafkan kelolaan saya... akhr2 ini sy terlalu menghayati peran miss mong...

    BalasHapus
    Balasan
    1. selamat, Ma....akhirnya ada yg perhatikan..

      jadi dy gak tau sejak kapan jamnya mati, hahahaha...kadang qt seperti "seperti ada yg terlupa" sampe kepikiran tapi ujung2nya bakal ketahuan juga apa yg terlupa itu.

      yah walaupun memang bukan jam 6 itu intinya, intinya ya "ternyata hanya mimpi..."

      Hapus
  4. waah,, rani yg nulis ya??
    haha,, gk nyangka.. ^_^V
    mampir yo ke lapak sy! baru ne.. baru nyobak.. :)

    http://bajank-galau.blogspot.com/

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaha sy juga baru tau ada yg gak nyangka... ^^v

      iyak...udah tak baca2,,lanjooot..

      Hapus
  5. blogmu yg loadingx agak berat ap keneksi sy yg lambat yak??

    BalasHapus
  6. sebenarnya mau komen, tapi udah lupa mau komen apa..gara2 berkali2 udah nyoba gagal2 terus, keinginan mengomen tergerus sedikit demi sedikit... :(...

    BalasHapus

Welcome blogger.... ^_^
Ber-komen-lah dengan bahasa yang baik & no SARA.