Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Mei 2015

Paman dimana... Samchun odiesso... (2)


Dua anak kumal dan mencurigakan, begitulah kesan pertamaku pada dua kakak beradik Rosa dan Roni. Yah, di jaman sekarang yang apapun serba susah dimana nggak menutup kemungkinan juga semakin banyak pula tindak kejahatan dengan menggunakan modus yang beragam, salah satunya mungkin saja berpura-pura menjadi orang yang membuat korban merasa iba dan setelahnya...ah sungguh, aku nggak sanggup membayangkan kelanjutannya. Begitulah kesan pertamaku pada mereka. Khawatirku ini, berlebihan bukan?
Maklum saja, sehari-hari saat suami dan anak-anakku berangkat kerja dan sekolah, rumah seolah terasa begitu lapang. Sungguh menyebalkan.

Suatu kali aku pernah curhat pada suami.

"Yang, rumah ini sungguh nggak menyenangkan kalau nggak ada "keributan" di dalamnya."

"Bilang aja takut."

"Bukannya takut, tapi agak khawatir. Sepi, ih." Aku hanya senyum-senyum sambil mencubitinya. "Serius kok dibercandain."

"Ya..ya..takut."

"Ih."

Ah..suami dan aku memutuskan, Rosa dan Roni tinggal di rumah kami sampai mereka bisa bertemu dengan pamannya, Sigit alias Bejo, setelah ayah mereka meninggal beberapa bulan lalu. Bagas dan Bejo adalah sahabat suamiku. Lagipula kami sungguh nggak tega melihat anak-anak itu harus terlantar di luar sana tanpa perlindungan.

Senin, 19 Mei 2014

Maafin Aku, Mbak

PLAK!!

Well to the well, well well...akhirnya, tangannya mendarat juga di pipi kananku. Awuhh rasanya begitu sakit di hatiku, bukan di pipi. Di hati. 

Sudah kuduga, sudah ku antisipasi tamparannya tapi entah kenapa rasanya tetap begitu nyeri dan sesak di dada ini. Mungkin aku yang salah menyampaikan, mungkin dia yang salah tanggap. Mungkin kami nggak ada yang salah. Tapi tamparan barusan yang diikuti dengan pelukannya kemudian, meyakinkanku bahwa dia merasa bersalah.

Aku masih diam dalam pelukannya untuk sesaat. Merasakan guncangan badannya karena isak tangisnya. Aku berusaha melepaskan diri karena merasa kesal, walau akhirnya aku menyerah dan menggosok lembut punggungnya untuk membuatnya lebih tenang.

Senin, 14 Oktober 2013

Bisa Jadi

Suara gonggongan sekelompok anjing liar itu membuat mood kacau. Sial. Apa sih yang anjing-anjing itu ributkan sampai harus tawuran antar genk di samping rumah? pikirku masih dengan mata terpejam. Kubuka selimut yang menutupi seluruh badan, memicingkan mata di gelapnya kamar yang dingin ini kemudian meraba-raba mencari di mana keberadaan ponselku. Waktu pada ponsel menunjukkan pukul 3:39 am. Terlalu dini. Samping rumah merupakan sebidang tanah lapang yang sebenarnya siap jual, jadi tak banyak tanaman atau rumput liar yang tumbuh tinggi dan biasanya digunakan anak-anak tetangga untuk bermain di sore hari. Jadi, bisa saja anjing-anjing pengusik ketenangan malam itu memilih tempat pertemuan di sana. Seandainya aku tak ingat sore nanti akan melakukan sebuah percobaan kecil yang menggelitik, huh mood-ku akan benar-benar anjlok.

Kamis, 12 September 2013

Berpisah dengan Suami dan Anak-Anakku





     "Wa'alaikumussalam... Kakak sedang apa? Mana Bapak sama Nana?" langsung saja kujawab dan kutanya pada anak pertamaku yang ada di seberang sana begitu dia mengucap salam.
     "Nggak sedang apa-apa kok, Bu. Bapak sama Nana belum pulang. Ibu sedang apa? kok suaranya begitu? Ibu sakit ya?"  rupanya dia menyadari perubahan suaraku.

Jumat, 07 Juni 2013

The Trouble Maker [Home Sweet Home]

     Liburan ajaran tahun baru pergantian semester buat Oca adalah hal yang paling ditunggu dan akhirnya datang juga. Sudah lama Oca berencana pulang kampung karena Mama udah kangen. Apalagi Oca, kangen..pake buanget. Tinggal terpisah dari keluarga untuk pertama kali bukanlah suatu yang mudah. Adaptasi juga rada susah

Kamis, 31 Januari 2013

The Trouble Maker [Deadline]


    Begitu masuk ke pintu pagar kos-an, Oca melihat Motik yang terlihat ngenes dengan ban belakangnya yang gembos.
     "Bentar ya, Tik...makan dulu baru deh tak bawa ke tambal ban." kata Oca sambil menepuk jok Motik.
   Setelah mengunci pintu kamar, Oca memulai perjuangan dengan menyalakan Motik dan menjalankannya
tanpa menaiki karena takut velg-nya jadi peyot-peyot. Letak tambal ban pas di depan seberang rumah pak RT, yah sekalian perbaiki pagar pak RT batinnya. Ternyata walaupun mesin Motik dinyalakan, Oca tetap sempoyongan.

Selasa, 25 Desember 2012

Apa Bisa Kembali Lagi?

Cerita sebelumnya dari QQ: Mari Berimajinasi Minna !!

     Aku akhirnya kembali ke kota kecil yang menyenangkan ini. Ya, di kota inilah aku lahir dan tumbuh. Kota yang kurang lebih setahun sudah kutinggalkan karena pindah ke kota yang jauh lebih besar dan tarpisah jarak yang sangat jauh. Kota ini sebenarnya enggak begitu menyenangkan tapi bersama semua orang dekatlah yang membuat kota ini begitu luar biasa istimewa. Tetangga juga sahabatku Willow, Zack, Viona dan Sophie kakak Willow.

Sabtu, 22 Desember 2012

The Trouble Maker


Ngeek.. beginilah kira-kira yang bakal kita rasakan kalau tiba-tiba lengan baju kaos nyangsang alias nyangkut di pegangan pintu, kagetnya bukan main. Zruut... beginiliah kira-kira yang bakal kita rasakan saat notebook tau-tau berubah posisi karena tanpa sadar kita mengambil sesuatu yang cukup jauh dari jangkauan saat earphone masih nangkring di kuping, kagetnya bukan main. Atau pletaaak dan aoww.... beginilah kira-kira yang bakal kita rasakan saat tiba-tiba tangan seseorang mendarat di atas kepala kita karena tanpa sengaja nginjek jempol kaki orang tersebut dengan sepatu ber-hak tebal kita, kagetnya bukan main boooook >_<

Masalahnya sih sebenarnya hanya satu,

Rabu, 12 Desember 2012

Si Gadis Kecil


"Ahh, rupanya dia datang lagi." Kataku sambil sedikit tersenyum.

Aku segera mengalihkan pandanganku dari langit-langit kamar yang membosankan ini ke arah jendela di seberang tempat tidurku begitu merasakan adanya sekelebat sosok gadis kecil itu di taman yang berada tepat di sebelah kamarku ini. Si gadis kecil kemudian duduk di ayunan yang memang sengaja dibuat pada dahan pohon mangga yang besar itu tak jauh dari kamarku. Si gadis kecil dengan erat memegang tali ayunan dengan kedua tangannya kemudian mulai berayun.

Bergegas aku turun dari tempat tidur dan melangkah di atas karpet lembut menuju ke arah jendela yang sedikit terbuka sehingga angin sepoi-sepoi yang dengan bersahabat masuk dari celah jendela dan dan membuat gorden seolah menari-nari.

"Hei!" Sapaku sambil melambaikan tangan dan tersenyum ke arahnya.

Tersadar akan sapaanku, si gadis kecil itu membalas juga dengan senyuman dan melambaikan tangannya namun segera kembali memegang tali ayunan karena hampir saja gerakannya yang tiba-tiba tadi mengganggu irama gerakan ayunan itu.

"Hah! Kamu gak papa?" Aku tersentak melihatnya.

Jumat, 12 Oktober 2012

Pukul 6

Aku melompat turun dari ketinggian yang tak wajar ini, sesosok yang jelas bukan manusia walau berwujud manusia itu dengan kecepatan yang bahkan lebih cepat dari kedipan mata, berlari melewatiku begitu saja.

"Ahh...dia lagi!" Sosok itu lewat di depanku dan membuat kostumku berkibar. Aku segera berlari ke arah yang berlawanan darinya. Padahal pintu keluar terdekat ada di dekatku, kenapa dia harus repot berlari melewatiku dulu untuk keluar dari gedung ini menuju tanah lapang hijau itu.

"Kali ini aku nggak boleh kecolongan." Kecepatan berlariku pun tak mau kalah darinya.

"Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi, bahkan aku sudah memenangkan keseluruhan duel tadi. Jangan sampai kehadiran sosok tadi merubah keadaan dengan tiba-tiba lagi seperti sebelumnya." Sambil terus berlari sekuat tenaga dan tanpa rasa lelah sedikit pun, aku mulai memikirkannya.

Jumat, 29 Juni 2012

Just a Story

Aahhh hausnya. Aww, silau. Kucoba membuka mata perlahan, rasanya berat sekali dan badan ini rasanya juga lelah sampai sulit rasanya untuk digerakkan. Kenapa aku terbaring? Kenapa di pergelangan tangan kiriku ada jarum infus? Kucoba menggerakkan kepala untuk melihat dengan sedikit tenaga yang kupunya. Kulihat di samping kiri ranjangku Bunda duduk tertidur. Bunda ngapain tidur di sofa? Kuarahkan lagi pandanganku ke seluruh ruangan. Di mana ini? Hah, siapa orang-orang ini?Dan siapa orang ini, kenapa dia menggenggam telapak tangan kananku? Sayangnya karena seluruh tubuh rasanya berat, aku bahkan enggak sanggup untuk bersuara. Aku hanya memandang dengan bingung.
 “Hoh, kamu sadar!” Kata orang ini terkejut sekaligus terlihat lega dan senang.
“Alhamdulillah! Tante. Tante. Dia sudah sadar.” Kata seorang anak perempuan salah satu dari orang-orang ini, membangunkan Bunda dengan lembut.
“Aku panggil dokter.” Kata anak perempuan yang lain bergegas dan dua lainnya menghampiriku. Terlihat jelas mata mereka memerah dan sembab sehabis menangis.
Ini kenapa ya?
“Oh, Nak…. Alhamdulillah kamu udah bangun.” Bunda tersenyum tapi menangis. Aku berusaha menegakkan kepala, tapi sangat berat dan terasa sakit.
“Udah…udah..jangan gerak dulu ya, kamu pasti capek. Tiduran saja.” Lanjut Bunda sambil menciumi dan mengusap-usap kepalaku. Aku hanya menatap Bunda dan tetap bertanya-tanya dalam hati, ini kenapa ya?

Sabtu, 17 Maret 2012

Finally

"Selamat jalan" kasih. Mungkin cukup sampai di sini penantianku, harapanku padamu. Kau yang tidak mengetahui bagaimana perasaanku ini. Ya...rupanya diriku hanya cinta sendiri. Biarlah rasa sakit ini kusimpan sebagai kenangan atas dirimu dalam hati dan ingatanku untuk meyakinkanku bahwa kau nyata.

-R-

Rabu, 29 Februari 2012

Semua Salahku

…and no matter what I do I feel the pain with or without you. Terdengar sayup-sayup Tearin’ Up My Heart-nya N’Sync dari radio tetangga sebelah. Ingin rasanya aku mematikan radio itu.
“Aaaak! Kesemutan.” Akhirnya aku tersadar kalau aku ketiduran dalam posisi duduk telungkup di meja belajar. Segera kuambil jam weker di depanku.
“Pantes. Sejam tidur seperti ini.” Sambil melihat jam weker kemudian melepas kacamata dan teringat kembali kejadian seusai jam sekolah tadi di parkiran.
Sambil berjalan tertatih karena seluruh badan terasa kesemutan, aku menutup jendela kamar agar suara lagu itu nggak terdengar lagi. Aku duduk di pinggir tempat tidur sambil meraba kepala dengan tangan kiri karena rasanya pusing sekali dan tanganku kemudian turun meraba kedua mataku,
“Sembab dan panas.” Gumamku.“Pras, sialan!”