Ada kesalahan di dalam gadget ini

Kamis, 30 Juli 2015

"Eh..mbak ini kemarin tralalala.. iya, dia pernah lho begininini begitututu. Saya tau itu... beneran."

Atau

"Tau nggak, mas itu dulu lalala yeyeye. Yah, gitu sih katanya si anu. Mungkin ya, mungkin lho mas itu tak dung cess tak dung dung."

Pernah nggak ngerasa ada dalam percakapan atau malah berujung perdebatan nggak penting "hanya" karena berawal dari prolog seperti (di atas) itu? Pernah pasti. Seeeeeeealim-alimnya manusia, minimal pasti pernah terjebak dalam rumpian macam tu. Pasti.

Di sini saya nggak ngebahas tentang apa atau bagaimana hukumnya dalam aturan beragama atau bagaimana sikap atau solusi yang sebaiknya diambil jika berada dalam situasi seperti itu. No. Saya cuma ingin menuliskan apa-apa yang menurut saya mengganggu (saya) sangat jika situasinya begitu. Serius, ini tulisan uneg-uneg jujur saya yang kadang saya nggak tahan nyimaknya.

Ya, situasinya jelas: ngomongin orang.

Buat saya, "okelah, bolehlah" kalau yang diomongin itu tentang kebaikan atau prestasi orang yang bikin perasaan seneng, termotivasi, ikut menjadi baik seperti itu. Tapi sangat no no no kalau sesuatau atau orang yang diomongin itu nggak baik atau malah nggak jelas kebenarannya yang buat kita yang sedang ngomongin jadi ikut-ikutan menghujat atau bikin perasaan sebel dan nggak enak. Kan eek. *maafkan kekotoran ucapan saya yang jadi tulisan itu karena terbawa emosi* sekali-kali.

Bayangkan...hanya-untuk-demi mengisi kekosongan dalam percakapan, sampai hati ngomongin orang yang kita kenal duh apalagi yang nggak dikenal. Risih sebenarnya. Lho, kok ada kata "sebenarnya"? Karena kadang khilaf, berawal dari mengagumi seseorang berujung dari berspekulasi tentang orang itu atau malah "teringat" orang lain dan asik ngomongin orang lain itu.

Membicarakan orang lain itu kasarnya seperti menelanjangi orang lain yang tanpa sadar menelanjangi diri sendiri. Malu kan? Maluuuuu. Kalau menyadarinya.

Kadang saya berpikir, apa yang diomongin orang yang dekat dengan kita membuat orang lain tersakiti alias terdzolimi sehingga mendoakan keburukan untuk orang terdekat kita atau bahkan kitanya langsung. Sehingga ada kebaikan-kebaikan yang tertunda atau bahkan gagal bagi orang terdekat kita atau kita.

Tapi kembali lagi pada pikiran yang jernih, bukankah apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai? Jadi, nggak ada hubungannya sesuatu yang dianggap keburukan yang sedang menimpa kita itu ada hubungannya dengan ulah orang lain. Kira-kira begitu.

Hal yang seperti itu hanya hiburan atau kepuasan singkat yang semu.

Bisa aja itu hal yang menarik dan lucu buat diomongin tapi apa nggak pernah terpikir, saat kejadian hal itu sama sekali nggak menarik dan sama sekali nggak lucu buat orang yang bersangkutan. Atau bisa aja berasa biasa aja atau sepele buat orang lain... tapi dia yang diomongin, bisa teringgung lho. Makanya jangan menganggap apa-apa yang biasa lantas otomatis mutlak statusnya biasa, itu kan anggapan(mu). Jangan dibiasakan apalagi jadi kebiasaan. Jangan.....

Mungkin nggak masalah kalau yang diomongin diri sendiri. Karena mau diomongin berarti kemungkinan nggak masalah donk ya buat diomongin. Tapi kalau yang diomongin orang lain, pikir-pikir lagi lah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Welcome blogger.... ^_^
Ber-komen-lah dengan bahasa yang baik & no SARA.